TEORI KONSUMSI
Oleh: Indri Dwi
pertiwi
Keynes berpendapat bahwa
pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dpengaruhi oleh pendapatan. Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat
dijelaskan melalui fungsi konsumsi. Fungsi konsumsi menggambarkan tingkat konsumsi
pada berbagai tingkat pendapatan.
C = a +bY => FUNGSI KONSUMSI
Keterangan : C = konsumsi seluruh
rumah tangga (agregat)
a = konsumsi
otonom, yaitu besarnya konsumsi ketika pendapatan nol
(merupakan konstanta)
b = marginal propensity to
consume (MPC)
Y = pendapatan disposable
Semakin tinggi
tingkat pendapat mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat konsumsi. Selain
itu, pendapatan juga berpengaruh terhadap tabungan. Semakin tinggi pendapatan,
semakin besar pula tabungannya karena tabungan merupakan bagian pendapatan yang
tidak dikonsumsi. Walaupun pendapatan penting peranannya dalam menentukan
konsumsi, peranan faktor-faktor lain tidak boleh diabaikan. Dibawah ini
diterangkan beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan
tabungan:
1) Kekayaan yang terkumpul
Sebagai akibat
menapat harta warisan/tabungan yang banyak akibat usaha dimasa lalu, maka
seseorang berhasil memiliki kekayaan yang mencukupi. Dalam keadaan seperti itu
ia sudah tidak terdorong lagi untuk menabung lebih banyak.maka lebih besar
bagian dari pendapatannya yang digunakan untuk konsumsi dimasa sekarang.
Sebaliknya, untuk orang yang tidak memperoleh warisan mereka lebih bertekat
untuk menabung yang lebih banyak di masa yang akan datang.
2) Tingkat bunga
Tingkat bunga
dapatlah dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari melakukan tabungan.
Rumah tangga akan berbuat lebih banyak tabungan apabila tingkat bunga tinggi
karena lebih banyak bunga yang akan diperoleh.
3) Sikap berhemat
Berbagai masyarakat
mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Ada masyarakat
yang tidak suka berbelanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan tabungan.
Dalam masyarakat seperti itu APC dan MPCnya adalah lebih rendah tapi ada pula
masyarakat yang mempunyai kecenderungan mengkonsumsi yang tinggi yang berdiri APC
dan MPCnya adalah tinggi.
4) Keadaan Perekonomian
Dalam perekonomian
yang tumbuh dengan teguh dan tidak banyak pengangguran masyarakat
berkecenderungan melakukan perbelanjaan yang lebih aktif. Mereka mempunyai
kecenderungan berbelanja lebih banyak pada masa kini dan kurang menabung.
Tetapi dalam keadaan perekonomian yang lambat berkembangnya, tingkat
pengangguran menunjukkan tendensi meningkat, dan sikap masyarakat dalam
menggunakan uang dan pendapatnya makin berhati-hati.
5) Distribusi Pendapatan
Dalam masyarakat yang distribusi
pendapatannya tidak merata, lebih banyak tabungan akan dapat diperoleh. Dengan
masyarakat yang demikian sebagian besar pendapatan nasional dinikmati oleh
sebagian kecil penduduk yang sangat kaya, dan golongan masyarakat ini mempunyai
kecenderungan menabung yang tinggi. Maka mereka boleh menciptakan tabungan yang
banyak. Segolongan besar penduduk mempunyai pendapatan yang hanya cukup
membiayai konsumsi dan tabungannya adalah kecil. Dalam masyarakat yang
distribusi pendapatannya lebih seimbang tingkat tabungannya relatif sedikit
karena mereka mempunyai kecondongan mengkonsumsi yang tinggi.
Faktor-faktor
penentu tingkat konsumsi
1. Pendapatan rumah
tanggan, semakin besar pendapatan, semakin besar pula pengeluaran untuk
konsumsi
2. Kekayaan rumah
tangga, semakin besar kekayaan, tingkat konsumsi juga akan menjadi semakin
tinggi. Kekayaan misalnya berupa saham dan deposito
3. Prakiran masa depan,
bila masyarakat memperkirakan harga barang-barang akan mengalami kenaikan, maka
mereka akan lebih banyak membeli atau belanja barang-barang
4. Tingkat bunga,
bila tingkat bunga tabungan tinggi atau naik, maka masyarakat merasa lebih
untung jika uangnya ditabung daripada dibelanjakan, berarti antara tingkat
bunga dengan tingkat konsumsi mempunyai korelasi negatif
5. Pajak, pengenaan
pajak akan menurunkan pendapatan disposable yang diterima masyarakat, akibatnya
akan menurunkan konsumsinya
6. Jumlah dan
konsumsi penduduk, jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran
konsumsi. Sedangkan penduduk yang didominasi penduduk usia produktif atau usia
kerja akan memperbesar tingkat konsumsi
7. Faktor sosial
budaya, misalnya berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata
nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang di anggap lebih modern
TEORI KONSUMSI DALAM EKONOMI ISLAM
Islam mengajarkan pola konsumsi yang
moderat, tidak berlebihan tidak juga keterlaluan, leboh lanjut al-Quran
melarang terjadinya perbuatan tabjir dan mubajir.
Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan
sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan. Dalam kerangka Islam perlu dibedakan dua tipe pengeluaran
yang dilakukan oleh konsumen muslim yaitu:
Ø Pengeluaran tipe pertama adalah pengeluaran
yang dilakukan seorang muslim untuk memenuhi kebutuhan duniawinya dan keluarga
(pengeluaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dunia namun memiliki efek pada
pahala diakhirat).
Ø Pengeluaran tipe kedua adalah pengeluaran yang
dikeluarkan semata – mata bermotif mencari akhirat.
Ajaran Islam menganjurkan pada konsumsi dan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola
yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan.
Perbedaan antara ekonomi modern dan ekonomi
Islam dalam hal konsumsi terletak pada cara
pendekatan dalam memenuhi kebutuhan seseorang.
Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, Islam
menyarankan agar manusia dapat bertindak ditengah – tengah (moderity)
dan sederhana (simpelicity). Pembelanjaan yang dianjurkan dalam Islam
adalah yang digunakan untuk memenuhi “kebutuhan” dan melakukan dengan cara
rasional. isharf dilarang dalam al – Qur’an. Tabzir berarti
membelanjakan uang ntuk sesuatu yang dilarang menurut hukum Islam. Perilaku ini
sangat dilarang oleh Allah swt.
Menurut Mannan bahwa perintah islam mengenai konsumsi
dikendalikan oleh lima prinsip, yaitu:
Ø Prinsip Keadilan
Ø Prinsip Kebersihan
Ø Prinsip Kesederhanaan
Ø Prinsip Kemurahan Hati
Ø Prinsip Moralitas
Ada tiga dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku
konsumsi masyarakat muslim :
1.
Keyakinan akan adanya hari kiamat dan
kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan
konsumsi untuk akhiratdaripada dunia
2.
Konsep sukses dalam kehidupan seorang
muslim di ukur dengan moral agama islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang
dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai.
3.
Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan
bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar